Laman

2.26.2011

ONIXAMES

cerita (yang bakalan jadi puannnnjangggg banget) ini adalah cerita yang pertamanya gue anggap gagal dan gak gue terusin. tapi, setelah gue baca ulang, gue jadi tertarik buat nerusin XD ini pertama gue ketik pas gue kelas 1 SMP dan sekarang gue kelas 3 SMP -_____-" ckckck baru di publish sekarang wkwkk. yah, maaf lah kalo ceritanya terlalu lebay imajinasinya wkwkk. ENJOY :D
.
.
.
.
Di sebuah planet yang bernama Traquilina tepatnya di negara Zu, ada dua kerajaan yang sangat bertolak belakang. Kerajaan yang pertama di pimpin oleh Raina-Vera, seorang ratu yang sangat jujur dan bijaksana. Semua para penduduk di kerajaan tersebut sangat mengagung-agungkan ratu mereka. Kerajaan kedua di pimpin oleh Raina-Zelia, seorang ratu yang yang sangat cantik, tapi sayang, karena merasa paling cantik sejagad raya, beliau menjadi orang yang sangat sombong dan mudah cemburu, di kerajaannya, jika dia mendengar ada seorang perempuan yang kecantikannya melebihi kecantikan sang ratu, perempuan tersebut akan di kirim ke tempat yg bernama Osirin, tak ada yang tau tempat seperti apa itu, yang pasti tempat itu adalah tempat seperti neraka bagi para perempuan.
Kedua kerajaan itu di batasi oleh perbatasan Soren. Soren adalah nama sebuah hutan belantara yang sangat enggan di lewati, katanya setiap orang yang masuk ke hutan, tidak akan pernah bisa keluar.
Ada sebuah legenda Traqulina, yaitu lima pejuang onixames akan bangkit dan menyelamatkan perang Dracoina atau perang pintu naga. Banyak isu bahwa perbatasan Soren lah tempat para lima pejuang onixames bangkit.
Tanpa diketahui siapa pun,Raina-Vera dan Raina-Zelia melakukan pertemuan setiap tahunnya. Pertemuan tersebut dilaksanakan disebuah tempat tertutup yang berada di perbatasan  Soren. Mengapa Raina-Vera dan Raina-Zelia bisa masuk perbatasan Soren? Itu karena mereka mempunyai jimat yang diberikan langsung oleh para dewa-dewi. Jimat yang berupa permata. Kedua Raina masing-masing mempunyai permata yang berbeda. Raina-Vera memiliki permata berwarna kuning keemasan yang disebut Glovza, permata berinti api dan sinar matahari. Sedangkan Raina-Zelia memiliki permata berwarna biru kehijauan yang disebut Zade, permata yang berinti air dan sinar bulan purnama.
“INCOZULA OCVA!” sebuah manta diucapkan secara bersamaan oleh kedua Raina. Membuat kedua jimat permata itu melayang ke atas dan mengeluarkan sinar seperti aliran listrik yang menuju kearah tanah.
KRAK….terjadi getaran kecil dan tanah perlahan terbuka dan perlahan juga membentuk anak tangga yang menuju kebawah. Setelah anak tangga itu terbentuk sempurna, kedua Raina berjalan melalui anak tangga untuk menuju tempat pertemuan rahasia. Ya, tempat pertemuan rahasia itu berada dibawah tanah berbatasan Soren.
Tempat tersebut ternyata adalah kuil kuno yang jaman dahulu yang dibangun untuk mengenang para lima pejuang onixames. Dinding kuil tersebut penuh dengan ukiran-ukiran. Ukiran tersebut adalah sejarah besar Negara Zu yang diukir oleh Una, seorang penjaga kuil sekaligus penyihir wanita pada masa itu. Dan beginilah kisah sejarahnya…
Dahulu kala, negara Zu hanya mempunyai satu kerajaan yang sangat tentram dan damai. Kerajaan tersebut dipimpin oleh Ray-Aleron sang raja yang bijaksana dan kuat, serta Raina-Elle sang ratu yang sangat cantik dan mencintai rakyatnya. Suasana kerajaan tersebut tenang-tenang saja, sampai suatu hari seorang wanita yang bernama Eloise datang ke kerajaan tersebut dan menghasut rakyat-rakyat untuk berpaling dari raja dan ratu mereka dan membuat kerajaan baru disebrang Hutan Soren. Sebagian besar rakyat menolak, bahkan ada yang melapor ke pihak kerajaan. Ray-Aleron yang mendengar itu sangat terkejut. Ia terkejut karena mendengar kata “Eloise”. Ternyata wanita yang bernama Eloise itu adalah adik perempuan Ray-Aleron yang sewaktu dirinya diangkat menjadi raja dan hilang secara misterius kembali dengan tiba-tiba. Ray-Aleron bingung, dia harus merasa senang karena adiknya kembali atau marah karena adiknya itu berani membuat sebagian rakyatnya berpaling padanya.
Hingga pada suatu hari, Eloise datang menghadap Ray-Aleron dan memintanya untuk turun tahta dan memberikan tahtanya kepadanya atau dia akan terus menghasut rakyatnya agar mau berpaling dengannya. Tentu saja Ray-Aleron menolak dan dengan berat hati mengusir adiknya dari kerajaan. Sang adik murka dan bersumpah kepada kakaknya Ray-Aleron akan membuat kerajaannya hancur dan membuat dia tunduk padanya.
Ini membuat Ray-Aleron bingung, begitu juga sang istri. Lalu secara diam-diam mereka pergi ke hutan Soren untuk berdoa kepada dewa.Meminta petunjuk. Saat sedang khusyuknya berdoa, sang dewa datang menghampiri mereka secara langsung dan menuntun mereka ke tengah hutan. Disana terlihatlah lima orang yang sedang berbaring diatas tanah. Tiga laki-laki dan dua perempuan. Kemudian dengan keuatannya, dewa menciptakan lima batu berukuran kecil yang secantik  mutiara dengan warna yang berbeda. Merah ruby, kuning topaz, biru shapire, hijau jade, dan yang terakhir berwarna putih seputih mutiara. Sang dewa memberikan kelima batu mutiara  itu kepada Ray-Aleron dan Raina-Elle dan memerintahkan mereka untuk memberikan kelima batu mutiara  ini kepada lima orang yang sedang tertidur itu saat bangun. Dan kemudian, dewa menghilang.
Tak lama, kelima orang tersebut bangun dan langsung mengabdi kepada mereka dan kerajaan mereka, mereka bersedia melawan Eloise. Mereka mengaku bahwa mereka adalah pejuang Onixames. Tak lupa Ray-Aleron memberi mereka batu mutiara tersebut kepada lima orang tersebut satu persatu.
Di kastilnya sendiri, Eloise melihat kejadian itu lewat kristal saktinya. Dengan sigap Eloise mengumpulkan bawahannya, tentu saja bawahannya itu adalah sebagian rakyat yang berhasil terhasut oleh Eloise. Tanpa diketahui siapa-siapa, kehilangan Eloise dahulu adalah untuk pergi ke tebing Beledia untuk mendapatkan kekuatan yang melebihi para dewa. Sekarang, dengan kekuatannya yang amat besar, Eloise memberikan sebagian kekuatannya kepada bawahannya guna untuk menghancurkan kerajaan Ray-Aleron.
Jadilah peperangan terjadi, pasukan Eloise yang berjumlah ratusan orang melawan lima pejuang Onixames. Dalam sekejap, lima pejuang Onixames berhasil melumpuhkan semua pasukan Eloise.
Melihat pasukannya dikalahkan begitu mudahnya oleh pejuang Onixames, Eloise tidak tinggal diam. Dia berniat menghancurkan pejuang  Onixames itu dengan kekuatannya sendiri. Eloise mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengalahkan Onixames.
Pertarungan Eloise melawan Onixames berlangsung sengit, kekuatan mereka seimbang. Sampai tenaga Onixames habis dan terjatuh di tanah. Ini adalah kesempatan emas untuk Eloise demi mencapai kejayaannya. Tak ingin mengecewakan rakyat yang mempercayai mereka, para Onixames mengeluarkan kekuatan terakhir mereka. Diambilnya mutiara mereka masing-masing dan dilemparkan kearah Eloise. Bola-bola itu dengan cepat mengitari Eloise dengan cahaya yang dipancarkannya, dan menghancurkan Eloise dan kekuatannya yang jahat. Bola-bola itu masih utuh, tetapi….karena itu kekuatan terakhir pejuang Onixames, mereka meninggal dengan kebahagiaan. Kebahagiaan karena berhasil menyelamatkan kerajaan dari ancaman yang jahat. Demi mengenang para pejuang Onixames, para rakyat berbondong-bondong membangun kuil bawah tanah dan penyihir Una membuang bola-bola itu ke dimensi lain, itu perintah dewa. Ada satu hal peninggalan dari Eloise, kerajaan di Negara Zu menjadi dua bagian. Kerajaan Utara dan Kerajaan Selatan.
“Jadi? Bagaimana dengan penawaranku lusa kakakku?” Tanya sang adik alias Raina-Zelia kepada kakaknya Raina-Vera. Keduanya sudah duduk berhadapan dibangku mereka masing masing.
            “Maaf Zelia, aku tak bisa menerima tawaranmu itu. Aku masih percaya bahwa reinkarnasi pejuang Onixames akan datang, dan menghentikan perang Dracoina,” jawab sang kakak tegas.
            “Sampai kapan kita harus menunggu? Banyak peramal berkata bahwa perang Dracoina akan datang sebentar lagi, apa kau mau Negara Zu hancur?” bentak Raina-Zelia. Tak ada jawaban dari Raina-Vera. “Aku tetap akan bersikukuh dengan rencana ku. Sekarang, berikan permata mu!” Raina-Zelia berdiri menghampiri Raina-Vera dan meminta permata Glovza miliknya.
            “TIDAK AKAN! Apa kau lupa pesan ayahanda sebelum beliau meninggal?! Kita tidak boleh menggunakan permata ini untuk hal yang lain, termasuk rencana dan eksperimen aneh mu itu!” elak Raina-Vera dan membentak Raina-Zelia penuh amarah.
            “AKU TIDAK PERNAH MENDENGAR PESAN AYAH! Apa kau lupa?! Sedari kecil kita berpisah! Aku dikerajaan Selatan bersama ibu, dan kau dikerajaan Utara bersama Ayah! Dan eksperimenku tak aneh!”
            PLAK!! Karena tak tahan dengan sikap adiknya yang keterlaluan itu, sang kakak menampar adiknya.
            “Itu karena saat detik-detik ayah meninggal kau malah sibuk sendiri dengan tawanan tak bersalahmu di Osirin! Dan apa kau tak ingat?! Bahwa kita berdua ditakdirkan untuk mengabdi kepada reinkarnasi pejuang Onixames, dan menyerahkan permata kita untuk digunakan reinkarnasi pejuang Onixames saat menghentikan perang Dracoina?” Raina-Vera membentaknya lebih keras, disaat seperti ini sifat kebijaksanaannya saat menjadi ratu ia ganti menjadi sifat seorang kakak yang sedang berdebat dengan adiknya.
            “Apa kau bilang?! Mengabdi?! Aku yang ratu ini harus mengabdi kepada pejuang tak jelas kapan datangnya itu?! AKU TAK SUDI!” Raina-Zelia membalas bentakan Raina-Vera tak kalah keras. “Aku akan tetap menjalankan rencanaku itu, dengan satu permata! Permata Zade milikku!” kata Raina-Zelia yang lalu pergi meninggalkan Raina-Vera sendirian di kuil bawah tanah tersebut.
            “Jangan memakai sembarang permata itu,” sebuah suara menggema tiba-tiba memenuhi kuil itu.
            “Siapa itu?” Tanya Raina-Zelia sambil mencari sosok yang bicara itu ke dinding-dinding langit.
            “Dewa…” guman Raina-Vera pelan, tetapi bisa terdengar oleh Raina-Zelia.
            “Jangan memakai sembarang permata itu,” suara itu terdengar lagi dan masih mengucapkan kata-kata yang sama.
            “Tolong perlihatkan wujud anda,” kata Raina-Zelia yang tidak percaya itu dewa.
            WUSSS….tiba-tiba angin berhembus kencang. Dan tiba-tiba muncul setitik cahaya dari lorong yang mereka lewati tadi. Setitik cahaya itu makin lama semakin membesar. Menyilaukan siapa saja yang melihatnya. Termasuk kedua Raina yang menutup matanya karena kesilauan.
            “AAAAAAAAAAAAAA…..” cahaya itu memanas, membuat tubuh mereka juga panas.
            “LOCIUS DABORDRA!” seru seseorang yang membuat cahaya itu lenyap. “Oh tidak! Aku terlambat! utusan dewa telah mengubah Raina,” lirih orang itu dan melihat kedua Raina pingsan dan  menjadi anak kecil yang umurnya sekitar lima tahun.
-NXSMH-

Bumi, Indonesia, Jakarta….

            Hari Senin atau yang biasa disebut MON(STER)DAY adalah hari yang paling dibenci oleh umat pelajar. Mengapa? Karena sedang asyik-asyiknya bersantai-santai di rumah ala hari Minggu, tetapi saat melihat kalender besok menunjukkan hari Senin yang artinya mereka harus kembali ke sekolah. Hal ini juga sangat dirasakan oleh seorang remaja laki-laki yang berumur 15 tahun, ya, dia kelas 1 SMA.
            “ADIT!!! BANGUN DITT!! KESIANGAN KAMU!!” teriak seorang ibu rumah tangga sambil mengguncang-guncangkan tubuh anaknya. Tak lama anaknya membuka mata sayunya, melihat jam dan….
            “HUANJIRRR!! GUA TELAT!!” teriaknya keras.

Nama              : Aditya
Kelas              : 1 SMA
Kelebihan       : kesiangan, bolos, dan bermain bola

            BUAGH!! Jitakan dahsyat menjadi menu sarapan pembuka Adit. “HEH! Udah sana cepetan mandi!” omel ibunya. Dilanjutkan oleh Adit yang berlari menuju kamar mandi.
            Selesai mandi super cepat, sarapan super cepat, Adit langsung bergegas keluar rumahnya dan lari menuju sekolah. Untung saja jarak antara rumah dan sekolahnya sangat dekat.
            Yap gerbang sekolah udah ada didepan mata, hanya tinggal masuk saja dan berlari menuju kelas dan duduk manis, ralat duduk sambil ngos-ngosan karena habis berlari-larian. Hey! Ada yang lain selain gerbang sekolah dimatanya. Seorang perempuan teman sekelasnya!
            “HUAAA AWAS!!!”
            GUBRAK!! Mereka sukses bertabrakan.
            “ADUH ADIT! KALO JALAN LO LIAT LIAT DONG!” bentak perempuan itu yang maih dalam posisi duduk karena jatuh.

Nama              : Inka
Kelas              : 1 SMA
Kelebihan       : suara keras (yang dibentaknya langsung ngibrit), suka nangis kalo lihat adengan menyentuh (ex: putri yang ditukar, cinta fitri, dll), dan pintar memasak.

            “E-eh…m-maaf banget ka, so-sory gue telat! Buru-buru!” kata Adit yang langsung cabut tanpa menolong Inka yang bokongnya ke sakitan.
            “EH WOY GUA DI TINGGAL!” teriak Inka marah gara-gara menurutnya adegan seperti ini seharusnya dilanjutkan oleh uluran tangan cowok yang bermaksud untuk menolongnya berdiri, kemudian mata mereka bertemu, saling pandang satu sama lain dan cowok itu berguman ‘wah cantik sekali’. Sinetronis.
            “Eh telat? Kan bel jam setengah tujuh, ini baru jam enam,” Inka sangat bingung.
            Mari kita kembali ke Adit…
            “MAAF BU PAK SAYA TIDAK AKAN TELAT LAGI,” ucapnya dengan napas ngos-ngosan. Dan…krik…kelas X-C masih sepi. “Loh? Kok banyak yang belom pada dateng?” tanyanya bingung.
             
            Sementara di rumah Adit….

            “Fufufufu ternyata trik mempercepat jam itu pengaruh ya sama Adit yang sering telat fufufufu,” kata ibu yang sangat amat bahagia sambil menyeruput teh dan menyaksikan berita gossip pagi. Ibu yang pandai……dan licik.

            Balik ke sekolah….

            Adit yang kecewa karena ia sudah capek-capek lari-larian dai rumahnya menuju sekolah tetapi ternyata dikerjai ibunya sendiri berjalan malas menuju bangkunya. “Pasti ulah Nyokap! Pasti!” gerutunya sebal.
            “Eh Dit, tumben lu udah nonggol di sekolah pagi-pagi gini,” seruan yang tiba-tiba dari anak laki-laki yang menepok pundaknya.
           
Nama              : Rio
Kelas              : 1 SMA
Kelebihan       : satu lirikan bisa membuat 3-4 cewek klepek klepek, gombalan mautnya bisa membuat dunia berguncang, dan kepintarannya dalam mendeteksi apapun.

            “Ah elu, yo. Iya dong gue kan anak teladan hehe,” kata Adit sok keren, padahal baru dikerjain ibunya.
            “Oh,” Rio membalas singkat. Sok cool.
            “Eh eh, pinjem PR matematika dong….belom ngerjain nih,” kata Adit mengeluarkan jurus mata pinjami-akyu-PR-dong-Rio-ganteng.
            “Uggh jijik gua sama tampang lo yang maho, nih nih,” Rio pun luluh, eh bukan! Maksudnya Rio pun tak sanggup melihat wajah Adit yang imut imut najis.
            “Mantap hehe,” kata Adit menerima buku PR Rio dan langsung menyalin PR yang berjumlah 3 lembar. Lumayan olah raga jari.
            “Misi, gue mau lewat,” seru sebuah suara yang amat sangat lembut. Suara cewek. Dan cewek itu ingin melewati jalan yang dihalangi oleh Rio.
            “Vi-Viole…t?!” pekik Rio sangat kaget.
            “Ya?” respon cewek berwajah imut nan polos itu.

Nama              : Violet (Vio)
Kelas              : 1 SMA
Kelebihan       : bisa membuat cowok cowok mimisan hanya karena wajahnya yang imut, sangat pendiam dan tertutup, ketua ekskul lokomotif.
           
            “Ah! Silahkan lewat wahai malaikat ku yang mempesona,” Rio memulai aksi gombalnya. Berharap Violet tersipu-sipu.
            “Ya,” dan itu lah respon perempuan yang digombali oleh sang raja gombal, Rio. Respon yang singkat dan membuat Rio gigit jari.
            “Arrgh itu cewek susah banget buat di gombalin!” gerutu Rio.
            “Gombalan lo mulai kampungan kali,” canda Adit. Ingin sekali Rio memutilasi Adit.
            “Sini balikin PR gua!” paksa Rio yang merasa terhina.
            “Eee ampun ampun! Peace men be slow and gaol~,” kata Adit takut kehilangan contekan berharganya.
            “Awas lu kalo bilang gombalan gua kampungan lagi,” acam Rio yang berimajinasi bahwa pulpen itu pedang dan mencondongkan ke muka Adit.
            “I-iya,” kata Adit masih ketakutan setengah mati dengan tatapan maut Rio. ‘Emang rada kampung sih gombalannya,’ itulah kejujuran hati Adit.
            Setelah itu Adit fokus dengan kegiatan salin menyalin PR matematika, sementara Rio mejeng buat gombalin cewek-cewek. Kedip sana kedip sini, gombal sana gombal sini. Entah sudah berapa korban Rio kali ini. Cukup untuk mengobati kegalauannya karena tak bisa membuat Violet tersipu dengan gombalan pamungkasnya.
            “YAK! Akhirnya selesai juga,” ucap Adit yang telah menyelesaikan kegiatan salin menyalinnya.
            KRIIINGG…
            “Widih…keren lo Dit, bisa pas gitu,” kata Rio rada rada kagum.
            “Adit…..,” ucap Adit narsis sambil menepok dadanya. Jadi narsis.
            “Narsis lu,”
            Tap tap tap tap…. Suara langkah orang berlari menuju kelas X-C.
            “Pagi semua….,” sapa anak cewek berambut sebahu itu.
            “Pagi cantik,” sapa Rio gombal.
            “Pagi juga,” balas Inka. Cewek tersebut. Sudah terbiasa dengan gombalan Rio.
            “Kok gue gak disapa?” kata Adit sok sok ngambek.
            “Oh ada lo juga ya?” kata Inka sinis. Masih dendam gara-gara kejadian tadi pagi.
            “Jutek!” gerutu Adit pelan, takut kedengaran Inka.
            BLETAK!! Sebuah penggaris 30 cm mendarat dengan tidak ramah di kepala Adit. ‘Pilot’ tersebut tentu saja siapa lagi kalo bukan Inka. “WADAW!!” rintih Adit keras.
            “HAHA! Impas!” ucap Inka senang. Lalu menarik penggaris tu dari kepala Adit. Kemudian Inka menuju bangkunya yang sudah ditempati teman sebangkunya, Violet.
            “Pagi Vio,” sapa Inka tersenyum. Vio adalah nama akrab untuk teman Violet yang Violet anggap dekat. Contohnya Inka sahabatnya dari SD.
            “Pagi juga Inka,” balas Violet dengan senyuman juga. Bisa dibilang hanya di depan Inka Violet bisa tersenyum dan menampilkan ekspresi lainnya.
            “Ughh andai senyumnya Violet buat gue,” kata Rio yang melihat kejadian tersebut sambil gigit jari. Lagi.
            “Apa yang barusan lu bilang?” goda Adit sambil mendekatkan kupingnya ke muka Rio.
            “GAK ADA SIARAN ULANG!” Rio teriak pas di kuping Adit. Poor Adit’s ears.
            KREK…pintu kelas dibuka oleh seorang laki-laki yang lebih tua dari mereka dengan tujuan untuk mengajar, singkatnya guru. “Selamat pagi anak-anak,” sapa sang guru yang berambut keriting itu.
            “Pagi pak,” balas seluruh murid.
            “Sekarang kumpulkan PR matematika kalian,” perintah sang guru.
            Lantas semua anak langsung mengeluarkan buku PR mereka dan mengumpulkannya di depan meja guru.
            “Ada yang tidak mengerjakan?” Tanya pak guru memastikan. Dan kali ini guru itu tak mendapat ‘mangsa’. “Bagus, sekarang kit-“
            TOK TOK TOK…suara ketukan pintu menghentikan kalimat pak guru. “Ya masuk,” kata pak guru mempersilahkan.
            KREEEEEK… pintu dibuka seseorang dengan sangat pelan, layaknya ingin maling rumah mewah. “Misi, pak. Maaf saya telat,” seru orang itu yang ternyata adalah salah satu murid yang telat.
            “Ckckck, kau lagi kau lagi Satya. Sampai bapak hapal nama kau,” kata bapak batak eh, pak guru maksudnya.
            “Maaf, pak…kesiangan,” kata Satya ngeles. Itu pasti.

Nama              : Satya
Kelas              : 1 SMA
Kelebihan       : pinter ngeles, jago main game, dan imajinasi sangat amat tinggi.

            “Ya sudah, duduk kau dimeja kau, dan kumpulkan PR matematika kau,” perintah pak guru.
            “Nih, pak. Saya rajin kan?” kata Satya menaruh buku PR nya diatas tumpukan buku PR lainnya.
            “Yayaya,” balas pak guru. Kemudian Satya menuju bangkunya yang terletak di samping bangku Adit dan Rio.
            “Nge-game sampe malem lagi Sat?” selidik Rio.
            “Yoi,” jawab Satya enteng.
            Kemudian pelajaran pun dimulai dengan kesetengahan hati para murid. Itu pasti. Lagu favorit mereka disaat seperti ini adalah ‘lagu’ bel istirahat, apalagi ‘lagu’ bel pulang. Mereka akan menari hula-hula.
            KRIIIINGG…bel istirahat pun berbunyi. Murid-murid bersorak girang layaknya para nara pidana yang setelah sekian tahun mendekam di penjara akhirnya bebas. Para murid berhamburan keluar kelas, ada yang menuju kantin, menuju kelas lain untuk meminjam sesuatu, menuju kelas pacarnya dan cari pojokan. Masa remaja adalah masa yang paling indah.
            “Woy Dit, Yo, sini dulu deh,” seru Satya kepada Adit dan Rio yang hampir keluar kelas. Tentunya ingin ke kantin, mana mungkin mereka ke kelas lain untuk mencari pacar? Mereka itu jomblo sejati! Tepatnya jomblo ngenes.
            “Apaan?” Tanya Adit seraya berjalan menuju bangku Satya dengan Rio disampingnya.
            “Entar pulang sekolah ke rumah gua, yok. Kita main game,” tawar Satya.
            “Emang entar kita pengen ke rumah lu dudul,” kata Rio menempeleng Satya. “Tapi bukan buat main game, tapi buat kerja kelompok,” sambung Adit yang melipat tangannya di dada.
            “Oiya gua lupa,” kata Satya mengelus-elus kepalanya yang abis ditempeleng Rio. “Em…sama Inka sama Violet, kan?” Tanya Satya memastikan.
            “Oiya gue lupa mereka satu kelompok sama kita! Lupa gue kasih tau lagi!” kata Adit menepok dahinya.
            “Ah gimana sih lu Dit! Inget lu ntar kasih tau mereka berdua,” kata Rio yang kali ini menempeleng Kepala Adit. Hari ini Rio sedang hobi nempeleng kepala orang.
            “Iya iya,” balas Adit yang hari ini senasib dengan Satya.
            “Woy apaan nyebut-nyebut nama kita berdua?” Tanya Inka yang entah dari kapan sudah berada dibelakang Rio. Dengan Violet disampingnya yang hanya diam.
            “Kebetulan ada lo Ka, gini, kan kita bahasa Indonesia sekelompok, jadi nanti abis pulang sekolah kita ngerjainnya di rumahnya Satya,” kata Adit menjelaskan.
            “Oh itu toh, oke deh. Pulang sekolah ya,” kata Inka yang berbalik dan kemudian keluar dari kelas. Violet pun mengikutinya.
            Tak lama, bel masuk berbunyi. Itu artinya, pelajaran membosankan lainnya akan berlangsung. Pertama-tama pelajaran Pkn yang penuh dengan pasal-pasal, lalu dilanjutkan dengan pelajaran fisika yang berisi banyak formula-formula rumit. Dan….KRIIING…lagu favorit para pelajar akhirnya dikumandangkan. Yap, bel pulang sekolah.
            “YEAYY!!”
            “Alhamdullilah…,”
            “FREEDOM!!!!!”
            “COY! Ke warnet yok!”
            “Ngapain?”
            “Biasa….sok polos lu,”
            “Woy! Pas nih waktunya! Kita cabut yok!”
            “Ini udah pulang sekolah bego,”
            Itulah macam-macam seruan yang dilontarkan para murid X-C. Sangat bervariasi bukan? Baiklah, mari kita lihat tiga sekawan alias Adit, Rio, dan Satya yang sedang berjalan beriringan (ber-iring-an) *takut ribet bacanya hoho* menuju gerbang sekolah untuk kerja kelompok di rumah Satya.
            “Eh, itu cewek-cewek mana?” Tanya Adit yang bermaksud menanyai keberadaan Inka dan Violet.
            “Meneketehe,” jawab Rio singkat dan santai.
            “Tuh mereka,” kata Satya sambil menunjuk Inka yang melambaikan tangan dan Violet yang sedang berlari kecil menuju mereka.
            Dengan waktu sekian detik, Inka dan Violet sudah bergabung dengan para cowok. “Eh eh eh, gue sama Violet pulang dulu, ya. Sekalian minta izin,” kata Inka.
            “Oke deh….tapi lo tau kan rumah Satya?” Tanya Rio meyakinkan.
            “Tau kok, tenang aja. Iya kan Vi?” kata Inka santai dan diamini oleh Violet.
            “Sip! Kita bisa main game dulu!!” seru Satya girang.
            “Yoi!” respon Adit dan Rio berbarengan. Kemudian mereka bertiga saling ber-tosan ala lelaki. Kedua cewek yang melihatnya hanya bisa berguman ‘dasar cowok’.
            “Hhh apalah. Gue pulang ya! Gue nyampe rumah lo sekitar jam setengah dua. Dah…,” kata Inka pamit.
            “Dadah..,” Violet pun (yang akhirnya berbicara) pamit juga. Kedua cewek itu menghilang dibalik segerombolan murid lainnya yang juga menuju keluar gerbang sekolah.
            “Cabut sekarang yuk,” Ajak Satya. Adit dan Rio mengangguk. Kemudian tiga sekawan pecinta game dan bola tersebut berjalan beriringan dengan tujuan rumah Satya.
            “WOY DIT MAEN BOLA YOK!” seru seorang cowok yang dibanjiri keringat karena bermain bola dilapangan sekolah.
            “WAH! AYOK!” balas Adit yang langsung lupa bahwa ia harus kerja kelompok (plus main game) dengan teman-temannya.
            “Eh eh eh, apa-apaan lo main bola! Kerja kelompok lo!” kata Rio yang menarik kerah Adit yang hamper lari menuju lapangan. Adit kecekek.
            “Eiya, ehek ehek, lepasin Yo!” kata Adit yang lehernya sakit gara-gara kecekek sama baju kerahnya sendiri. Karena Rio belum mau masuk penjara karena membunuh orang, dia melepaskan kerah Adit.
           
            Sementara di rumah Violet…

            “Vio…kamu mau kemana?” Tanya mama Violet yang melihat Violet memakai kaos berwarna ungu muda dan celana jeans selutut., juga memakai tas selempang berwarna kuning.
            “Mau kerumah temen, kerja kelompok,” jawab Violet.
            “Oh, pulangnya jangan malam-malam ya,” nasihat mama.
            “Iya, ma,” jawab Violet kalem dan menuju pintu keluar rumahnya untuk berangkat ke rumah Satya.

            Sedangkan di rumah Inka….

            Inka sedang menyisir rambutnya didepan kaca. Cewek itu sekarang sudah berganti seragam sekolahnya dengan kaos berwarna putih dan dilapisi dengan overall jeans.
            “Sip! Selesai,” katanya sambil menaruh sisirnya di tempatnya semula. Lalu keluar kamarnya, menuruni tangga rumahnya. Tapi, sebelum sampai ke pintu depan, Bunda Inka memanggilnya.
            “Ada apa, Bun?” Tanya Inka yang menghampiri Bundanya yang sedang duduk di sofa.
            “Nih, Bunda punya hadiah buat kamu,” kata Bundanya sambil memperlihatkan kalung dengan gantungan batu bulat seperti mutiara berwarna kuning.
            “Wah…lucu banget! Makasih ya Bunbun,” ucap Inka yang sangat suka warna kuning itu dan mencium pipi Bundanya sayang. “Eh, Inka buru-buru. Inka kerja kelompok dirumah temen dulu ya, Bun,” pamit Inka lekas pergi. Tak lupa dengan memakai kalung barunya.

Kalau di rumah Satya….

            “Coy, mau main game apaan nih?” Tanya Satya yang baru mengeluarkan PS3 nya.
            “Yang kemaren aja kita lanjutin,” Rio memberi usul.
            “Okelah,” Satya menyetujui dan mengeluarkan CD gamenya.
            “Dit, ikut main gak?” Tanya Satya yang melihat Adit sedang melihat-lihat meja belajarnya. “Woy, Dit! Lo ngeliat apaan sih?” Tanya Satya yang akhirnya menghampiri Adit.
            “Ini loh Sat, kelereng lo yang warnanya ijo,” kata Adit menunjuk kelereng hijau yang ia maksud di tumpukan kelereng Satya lainnya. “Warnanya keren banget!” Adit terkagum-kagum.
            “Yoi, favorit gua tuh,” kata Satya bangga.
            “Yaelah kelereng, kirain gua apaan! Cupu lu pada masih main kelereng, kayak anak SD,” kata Rio sok gaul tiba-tiba nimbrung.
            “Yeee sok gaul lo,” kata Adit nempeleng Rio. Sekalian untuk balasan yang tadi. Rio ingin membalas tetapi Satya menepis tangan Rio yang sudah ia kepalkan.
            “Udah ah, ngapain jadi ngurusin kelereng gua, lanjut main deh,” kata Satya yang terlihat melerai dan cinta damai, padahal udah kebelet pengen main game.
            Violet berjalan ke rumah Satya dengan sepedanya yang berwarna putih. Ditengah perjalanan dia tak sengaja melihat seekor burung yang berwarna hitam yang sedang terbang di angkasa.
            “Burung gagak?” Violet bertanya-tanya sendiri.
            CLING….pantulan matahari dipantulkan oleh benda yang berada di mulut gagak itu dan mengenai mata Violet. “Aw, silau,”
            “Kwak,” burung gagak itu bercicit, entah apa artinya karena Violet tak bisa bahasa burung. Dan PLUK…sesuatu yang menyilaukan tadi tanpa sadar dijatuhkan oleh gagak tadi dan mengenai tepat di kepala Violet. “Aduh!” rintihnya setengah kaget dan menghentikan gowesannya.
            Violet turun dari sepedanya untuk memungut benda kecil yang menimpanya yang menyilaukan. “Mutiara? Tapi, ukurannya lebih besar. Hm cantik, gue bawa ah,” kata Violet yang mengantungkan mutiara bulat berwarna putih itu. Kemudian dia kembali dengan sepedanya dan lanjut menggowes menuju rumah Satya yang tinggal berbelok saja.
            “Hahh akhirnya nyampe juga,” kata Inka menghela napas. “Eh?” Inka kaget berpapasan dengan Violet yang juga baru sampai di depan rumah Satya.
            “Loh? Lo baru nyampe juga, Ka?” kata Violet yang juga terkejut.
            “Iya hahaha, bisa barengan gini,” jawab Inka. “Masuk bareng yuk,” ajak Inka yang kemudian diikuti oleh Violet yang menuntun sepedanya.
            TING TONG TING TONG…Inka memencet bel. Sementara Violet sedang memarkirkan sepedanya.
            “IYA BENTAR,” terdengar seruan dari dalam. Inka bisa menebak bahwa itu adalah suara Adit.
            KLEK…pintu pun dibuka oleh Adit.
            “Hei,” sapa Inka.
            “Pakaian lo kok kayak anak kecil gitu sih?” komentar Adit. Membuat Inka meledak.
            “Gak usah banyak protes! Minggir gue mau masuk!” kata Inka sambil menyingkirkan Adit.
            “Ye…dasar,” cibir Adit. “Eh ngomong-ngomong si Violet mana?” Tanya Adit yang sadar akan ke tidak hadiran Violet.
            “Gue disini,” sapa Violet yang habis memarkirkan sepedanya.
            “Nah kayak Violet dong Ka bajunya, gak kayak anak kecil,” Adit berkomentar lagi. Belum sadar bahwa komentarnya membuat Inka naik darah.
            “ADITTTT!!!” Inka teriak dan menyerang Adit. Violet yang ada disitu menahan Inka yang hamper menjambak rambut Adit.
            “LEPASIN VIO LEPASIN!” perintah Inka, namun diabaikan oleh Violet.
            “Sttt Inka! Ini rumah orang, sopan dong,” nasihat  Violet yang masih menahan Inka.
            “Bener juga ya, ya udah deh,” kata Inka menyerah. Dan langsung menatap tajam Adit. “Lain kali lo gak bakalan lolos!” ancam Inka kepada Adit yang bergidik ngeri.
            “Yuk masuk yuk ke kamar Satya,” kata Adit mencoba mengalihkan pembicaraan. Dan ketiga orang itu berjalan ke atas menuju kamar Satya.
            KREK…pintu kamar Satya dibuka dengan keras oleh Adit.
            “Woy slow aja Dit!” kata Satya Kaget.
            “Sorry sorry…eh nih si Inka sama Violet udah datang,” kata Adit. Disampingnya sudah ada Inka dan Violet.
            “Wah udah lengkap ya? Yuk mulai aja kerja kelompoknya,” kata Rio beranjak dari permainannya dan mengambil buku dari tas sekolahnya.
            Mereka pun mengerjakan tugas mereka di meja yang berkaki pendek ditengah kamar Satya. Sesekali mereka bercanda. Lalu mereka serius lagi. Jika ada yang tak mengerti soalnya, mereka bertanya satu sama lain. Tak terasa dua jam berlalu, dan tugas kelompok mereka sudah selesai mereka kerjakan.
            “Akhirnya selesai juga,” kata Rio merenggangkan otot-ototnya gara-gara pegal menulis, duduk, dan sedikit menunduk selama dua jam.
            “Capek banget gue,” komentar Satya yang ikut merenggangkan otot-ototnya seperti Rio.
            “Eh ka,” panggil Adit ke Inka.
            “Apaan?” balasnya malas.
            “Lo masih suka kalung anak kecil yang bisa kedap-kedip ya? Wakakakkak,” kata Adit yang sedari tadi memperhatikan kalung baru Inka yang ada bola seperti mutiara berukuran besarnya kedap-kedip.
            “Ih apaan sih lo! Nyebelin banget!” kata Inka tak kalah sebal seperti yang tadi.
            “Itu apaan?” Tanya Adit sambil menunjuk bola mutiara kuning Inka. Inka pun melihat kalung baru dan benar apa yang dikatakan Adit! Kalungnya berkedap-kedip. Apa Bundanya tidak tahu bahwa kalung ini bisa berkedap-kedip?
            “Eh? Kok nyala begini sih?” Tanya Inka bingung sendiri.
            “HAHAHA Inka anak kecil! Inka anak kecil,” Adit kembali meledek Inka. Inka yang paling gak suka dibilang ‘anak kecil’ langsung tak segan-segan menjambak rambut Adit tanpa ampun.
            “Hahahaha,” Rio dan Satya tertawa melihat Adit yang kalah sama cewek. Violet juga tertawa tapi gak sekencang Rio dan Satya, alias cekikikan. Melihat Violet yang tersenyum, Rio langsung nengok ‘lucu’ pikirnya. Kemudian matanya langsung beralih ke kantung celana Violet. Ada sesuatu yang kedap-kedip.
            “Ehm, malaikat cantik,” kata Rio gombal sambil mencolek bahu Violet. Respon Violet menengok. “Ya?” jawab Violet.
            “Itu HP lo nyala,” kata Rio yang berfikir itu HP Violet menunjuk kantung celana Violet yang muncul kedap-kedip samar-samar.
            “HP? HP gue ada di kantung yang ini kok,” kata Violet mengeluarkan HP nya dari kantung yang sebelah kanan.
            “Lah? Terus itu yang kedap-kedip apa?” Tanya Rio bingung. Violet yang sama bingungnya langsung mengerogoh kantung kirinya. Dan yang ia dapat adalah batu mutiara putih yang dijatuh burung gagak tadi.
            “Eh? Kok mutiaranya kedap-kedip juga kayak kalung Inka?” Violet bertanya-tanya sendiri.
            “Mana mana?” Rio menyambar mutiara putih yang ada ditangan Violet secara tiba-tiba, kemudian menyambar kalung Inka plus Inka-nya.
            “Aduh! Sakit bego!” protes Inka yang sakit lehernya ikut tertarik.
            “Nih lihat,” kata Rio yang mendekatkan jarak antara bola mirip mutiara warna kuning Inka dengan mutiara putih milik Violet. Kemudian semuanya berkumpul mengerubungi kedua benda yang kedap-kedip tersebut
            “Eh, kok kedap-kedipnya ea  barengan gitu sih?” Tanya Inka bingung.
            “Ah kalian sama aja! Suka mainan yang nyala-nyala! Anak kecil anak kecil,” ledek Adit. Dan dibalas oleh tatap seram  dari Inka. Sementara Violet hanya memberi tatapan adit-lo-pulang-nanti-bakal-tinggal-nama-doang.
            “AH!” seru Satya tiba-tiba, membuat semuanya kaget dan memandangi Satya dengan heran. “Jangan-jangan itu harta karun alien yang ketinggalan di bumi!” Imajinasi ‘lebay’ Satya kambuh lagi.
            “Sat….,” kata Inka pelan. “Lo itu kebanyakan main game yang isinya alien,” sindirnya.
            “Nih ya! Gua buktiin! Bentar gua ambil alat pendeteksi alien gue,” kata Satya yakin dan beranjak menuju meja belajarnya.
            “#*?!&^*#&*” itu lah yang ada di pikiran yang lain.
            Satya pun mencari-cari ‘alat pendeteksi alien’ kebanggaannya. Tetapi, dirinya terdiam seketika.
            “Kok diem Sat?” Tanya Adit. Kemudian menyusul Satya menuju meja belajar. “AH! Kelereng Satya kedap-kedip juga!” seru Adit kaget. Kemudian diambilnya kelereng itu untuk dibandingkan dengan mutiara Violet dan gantungan kalung milik Inka.
            “Sekarang ada 3 harta karun alien!” kata Adit yang sudah ketularan Satya.
            Keempat remaja SMA itu pun memerhatikan ketiga benda yang kedap-kedip tersebut. Sementara Satya masih sibuk mencari ‘alat pendeteksi aliennya’
            “Gue perhatiin, kedap-kedipnya makin cepet,” kata Violet berkomentar.
            “Iya, iya. Tapi….emang bener ini harta karun alien?” kata Inka yang mulai penasaran.
            “Kalo gue liat, ketiganya tuh ukurannya sama persis!” selidik Rio.
            “Hem…masih mirip kayak mainan anak kecil ah!” sungguh komentar yang sangat tak berbobot. Kalian pasti ea  tebak siapa yang berkata seperti itu.
            “Eh alatnya ketemu nih!” seru Satya yang membuat teman-temannya menengok ke arahnya. Dilihatnya Satya memegang sebuah benda yang terdiri dari remote control mobil-mobilan, garpu, dan sebuah bohlam diatas remote control. Semuanya ia satukan dengan karet gelang. Itu bukan terlihat seperti ‘alat pendeteksi alien’, tapi seperti sekumpulan barang rongsok yang disatukan dan siap dijual di pasar loak. Gak kelihatan canggih sama sekali.
            “BUAHAHAHHAHA apaan tuh, Sat!” ledek Adit yang tertawa lepas.
            “Kan gue udah bilang, Sat. lo itu kebanyakan main game yang isinya alien,” komentar Inka yang menahan tawa. Tapi akhirnya tertawa lepas juga seperti Adit. Sementara Rio dan Violet tetap memerhatikan ketiga benda tersebut yang masih kedap-kedip.
            “Yah jahat banget sih lo lo pada, nih gue nyalain ya! Gue bakal cari benda kedap-kedip kayak gitu di sekitar kamar gue! Siapa tau ada yang lain,” kata Satya yang tetap yakin pada pendapatnya. Di pencetnya tombol ON pada remote control. Kemudian lampu bohlam pun menyala. Apakah artinya barang rongs….err alat pendeteksi alien Satya berfungsi?
            TRITT TRITT TRITT… alat tersebut berbunyi sangat nyaring setelah Satya dekatkan dengan tas Adit.
            “Hah?! Ada apaan di tas gue?!” kata Adit ea r dan langsung mengobrak-abrik tasnya. Kemudian ia mendapatkan benda yang persisi seperti ketiga benda tersebut. Dan benda yang berwarna merah itu juga kedap-kedip. “Sejak kapan gue punya barang kayak gini?” ea r Adit bingung.
            “Coba lo letakin disini!” perintah Rio. Setelah diletakkan. Keempat benda tersebut berkedip secara bersamaan dan semakin cepat.
            “Tuh kan berhasil,” kata Satya bangga dan melanjutkan pencariannya.
            TRITT TRITT TRITT…sekali lagi alat tersebut berbunyi. Kali ini Satya dekatkan dengan kantong celana Rio.
            “Yo, periksa celana lo,” perintah Satya yang kemudian dilakukan oleh Rio. Dan betapa terkejutnya mereka bahwa ada satu lagi benda yang berkedap-kedip sepeti benda-benda aneh yang mereka dapati. Tapi, kali ini benda yang ditemukan oleh Rio berwarna biru. Rio melakukan hal yang sama dengan Adit, menaruh benda yang ia temukan dikantongnya.
            Sekarang, total benda aneh yang mereka punya berjumlah lima. Lima benda aneh yang menyerupai mutiara tersebut berkedap-kedip sangat cepat.
            “Makin cepat!” komentar Inka yang semakin bingung.
            “Kecepatannya bertambah….gue rasa,” kata Violet, dan memang benar, kedipan bola mutiara tersebut kecepatannya bertambah.
            “Ah! Kok jadi silau?” ucap Satya yang menutup setengah pandangan matanya ea rah bola.
            “Makin cepat…makin silau…,” kata Rio mengamati.
            “KEDIPANNYA BERHENTI!” kata mereka berlima secara bersamaan. Yang mereka dapati sekarang setiap bola memancarkan cahaya yang begitu menyilaukan.
            “Benda apaan sih ini?!” Tanya Adit yang menutupi matanya dengan telapak tangannya karena kesilauan.
            “Aduh silau banget!” keluh Violet yang menutup matanya. Begitu juga yang lainnya, kini mereka semua menutup mata mereka karena tak tahan terhadap kesilauan bola aneh tersebut.
            Tak lama, tubuh mereka terasa bergetar. Kemudian merasa melayang. Dan puncaknya mereka merasa terlempar kesebuah jurang yang curam.
            “AAAAAAAAAAAAAA,” mereka berteriak dengan keadaan mata masih tertutup. Kesilauannya belum hilang.

            “…..Ini adalah reinkarnasi pejuang onixames?” suara samar-samar terdengar. Lantas kelima remaja tersebut membuka mata mereka. Didapatinya mereka melayang di luar angkasa dengan pelan.
            “Anda yakin mereka orangnya?” kini terdengar suara yang berbeda dengan yang tadi.
            “Batu telah memilih mereka,” jawab suara samar-samar yang lain. Ada 3 suara yang sedang melakukan percakapan.
            “I-ini di mana?” Tanya Adit kebingungan dan ketakutan.
            “Tadi….suara itu bilang onix apa?” kini, Rio yang berbicara.
            “Teman teman!” panggil Satya. Serentak semuanya melihat Satya yang menunjukan sebuah lubang putih. Lubang putih itu semakin mendekat, atau mereka yang semakin mendekat ke lubang putih tersebut.
            “Kita sekarang ada dimana sih?! Ini mimpi kan?! Mimpi kan?!” Tanya Inka ketakutan dan panik.
            “K-kita…s-semakin dekat dengan lubang itu…” kata Violet yang tak kalah ketakutan.
            “Tenang! Gue yakin kok ini mimpi! Pasti kita ketiduran gara-gara kecapean ngerjain tugas!” kata Inka yang berusaha tenang. Padahal ia sangat sangat sangat panic.
            “Ini bukan mimpi,” kata Rio memastikan.
            “Maksud lo?” Tanya Adit, Satya, Inka berbarengan.
            “Ya kalau….” Tiba-tiba seruan Violet mengangetkan mereka.
            “TEMAN TEMAN!! AWAS!!! KITA BAKAL DI SERAP LUBANG PUTIH ITU!!”
            “APA??!!”
            Dan memang benar, mereka terlempar ke lubang putih itu. Terlempar untuk kedua kalinya.
            “AAAAAAAAAAAAAAA,”


(to be cont) 

keep or delete?? comment please ^^