Laman

4.26.2012

terlalu lembek!

iya! gue lembek!
iya! gue diem mulu!
iya! gue kalah!
iya! gue ngelawan arus!
IYA IYA IYA! GUA TAU!!!
tapi maaf ya sebelumnya. gue bersikap seolah-olah gua lemah itu untuk menjaga biar gaada selek diantara gue sama elo. males banget gue pake kata 'kita'.
itu cuma gue yang ngelawan arus atau masih ada ombak-ombak yang bersembunyi yang ingin melawan arus juga? gue gatau. dan bodo amat! gelap gelap!
saat gue angkat bicara, lo semua pake topeng. kayak monyet lo semua, ikut pendapat temen mulu hahaaaa. ga punya pendirian.
demi apapun gue emosi. oke?
gue udah ga peduli lagi ya! maih banyak hal-hal yang lebih keren yang akan gue jalani. gue udah peduli tapi respon lo kayak begitu, yaudah....awas aja gue ga peduli tetep disalahin lagi.
gue benci diem, tapi gue terpaksa diem. dan jangan mohon-mohon sama gue kalo lo pada ancur. gue udah ancur duluan sama lo.

4.18.2012

A Spy Witch (Cerbung)


BAGIAN 1

PENYIHIR YANG SEDANG MENYAMAR

            Gadis itu hanya pura-pura memerhatikan guru yang sedang bermonolog membosankan di depannya. Berceramah yang isinya tidak jauh dari ‘masa depan’, ‘membanggakan orangtua’, dan ‘kewajiban seorang pelajar’. Ia lebih suka membayangkan saat dirinya berada di rumahnya, bersantai ria di depan televisi. Memang salahnya selalu mendapatkan nilai di bawah KKM pelajaran kimia. Ia juga tak mengetahui mengapa ia tak kunjung mengerti pelajaran itu. Otaknya terlalu rumit untuk berhadapan dengan pelajaran ramuan versi dunia manusia, pelajaran kimia.
            “Apa anda mengerti, Miss Cameo?” Guru yang sekilas mirip Albert Einstein itu akhirnya menyudahi monolognya.
            “Ah—um…y-ya! Saya mengerti, Pak!” Jawab gadis yang dipanggil Miss Cameo itu canggung. Sungguh, ia tak menyimak semua ceramahan guru kimianya.
            Ia bersumpah bahwa kejadian tadi hanya untuk pertama dan terakhir kalinya. Berdiam diri di ruangan pengap dan berbau aneh selama hampir 30 menit saja membuat dirinya sudah berjalan sempoyongan menuju kelasnya.
            “Kau baik-baik saja, Jade?” Jade—nama dari gadis itu menggangguk tanda ia tak apa-apa. Jawabannya membuat Ellie yang berpangkat sebagai teman dekatnya itu bernapas lega.
           
###

            “Padahal sudah hampir 3 bulan kau bersekolah di sini. Tapi, kau belum juga memilih klubmu sendiri dan selalu saja menguntitku seperti ini—Jade! Singkirkan tanganmu dari adonan kueku!”
            Ellie hanya bisa menggeleng-geleng kepala ketika Jade hanya nyegir tanpa dosa dan tetap mencolek sedikit adonannya. Ia adalah tipe orang yang suka menjaga kebersihan atas adonan kuenya. Karena itu Jade, ia menyerah dan pasrah atas kebersihan adonan kuenya. Ia bersumpah akan mencarikan Jade sebuah klub agar mempunyai kesibukan sendiri.
            “Ayolah, Jade. Pilihlah klubmu sendiri! Kalau mau kau bisa mendaftar klub tata boga sama sepertiku, eh?” tawar Ellie yang tak tahan dikuntit.
            “Aku sudah sibuk. Jika mempunyai klub, maka jadwalku benar-benar padat dan tak punya waktu istirahat yang cukup.” Kata Jade dengan amat santai. Tak melihat ekspresi Ellie yang menahan kesal.
            Kue terakhir sudah Ellie bentuk sempurna dan menempatkannya di tempat terakhir di loyang persegi. “Apanya yang sibuk?! Setiap hari kerjaanmu hanya menguntitku mengikuti kegiatan klub dan di kelas kau tidur hampir setengah pelajaran. Kau sebut itu sibuk? Sibuk bermalas-malasan, ha?!” di tutupnya pintu oven itu dengan kasar. Jade bergidik ngeri, ia memang sering melihat Ellie marah-marah, tapi entah mengapa ini yang paling seram.
            Jade tidak tahu ingin menjawab apa. Sangat amat tak mungkin ia menjawab bahwa ia sudah punya klub yang sangat menguras waktu di sekolah sihirnya. Ia bisa mendapatkan surat pemecatan siswa dari sekolahnya dengan kertas warna hitam. Ibu dan ayahnya bisa menceramahinya berjam-jam dan menghukumnya membersihkan kandang unicorn milik keluarganya tanpa sihir.
            Ya, itu adalah rahasia terbesar milik Jade. Seorang penyihir muda yang masih
bersekolah di akademi sihir, tinggal di dunia manusia karena tuntutan pekerjaan orangtuanya yang merupakan mata-mata dari negeri sihir. Dirinya sendiri juga mengikuti klub ‘mata-mata’ agar dapat menjadi mata-mata seperti orangtuanya kelak.
            Ellie telah menyelesaikan éclair isi vanilla yang berjumlah 6 éclair. Aroma adonan dan vanilanya bercampur menjadi satu. Ellie memang berbakat di bidang masak memasak, batin Jade meneliti.
            “Jadi…aku sudah selesai dengan klubku,” Jade melihat tangan Ellie memindahkan éclair dari piring ke kotak bekal miliknya, “Ayo, pulang.” Kemudian mereka melangkah keluar ruang tata boga sambil menguap bersama.

###

            Jam dinding berukiran klasik itu menunjukan pukul 4 sore. Jarum detiknya yang berbentuk unik itu bergerak, menunjukan waktu sedang berjalan. 5 jam lagi sekolah akan dimulai, batin Jade pasrah. Menjadi anggota klub mata-mata memang menyusahkan, kau mempunyai dua sekolah. Satu akademi sihir, dan yang kedua tentu sekolah manusia. Dengan malasnya, ia mengayunkan tongkat sycamore sihirnya untuk membuat baju seragam manusianya tergantung rapi an memakaikan baju santainya ke badannya.
            Menghempaskan badan ke kasurnya adalah kesukaannya, menurutnya itu bisa membuatnya rileks. Kemudian dilanjutkan memejamkan matanya dan tidur sampai jam 7 malam. Itulah rutinitas seorang Jade Cameo, ah bukan, melainkan keluarga Cameo, keluarga mata-mata.
            “BANGUN TUKANG TIDUR!!”
            Secepat itukah waktu berjalan? Kakak laki-laki Jade—Agate Cameo sudah melemparinya dengan bantal yang ia gerakkan dengan tongkat sihir. Muka jahilnya yang tak berdosa sudah menjadi makanan sehari-hari Jade yang minta dibangunkan olehnya. Ia memilih Agate karena kakaknya yang satu itu mempunyai suara yang memekikan telinga. Hanya di rumah ia bersikap jahil dan kekanak-kanakan, jika sudah di akademi, jangan harap kau bertemu Agate yang jahil.
            “Ya ya aku bangun.” Seru Jade yang kesulitan menepis bantal-bantal yang melayang dan menggebuk badannya. “Agate, hentikan!”
            “Hahaha, iya aku berhenti.”
            “Dasar.”
            Tanpa berbuat apa-apa lagi, Jade langsung memasuki kamar mandi, bersiap untuk pergi ke akademi sihir.
            “Makanlah yang banyak ya, Jade.” Seruan lembut dari kakak perempuannya Lace—kembaran dari Agate membuat Jade berpikir betapa adilnya Tuhan. Memasangkan Agate kembaran yang super duper keibuan, tak seperti dirinya yang menyebalkan.
            “Makanan Kak Lace memang paling enak!” puji Jade sambil membuat teh dengan sihirnya. Menyeruputnya sedikit dan meletakannya kembali.
            ‘BYURR’
            “Hore aku bisa menggunakan tongkat sihirku!” teriakan cempreng seorang bocah yang sangat bahagia karena telah berhasil merapalkan mantra menggerakan sebuah benda dengan tongkat sihirnya membuat Jade, Agate, dan Lace basah karena tumpahan air teh.
            “TOPAZ!” seru mereka bertiga kepada adik kecil mereka yang memang baru masuk akademi satu tahun lalu. Topaz yang polos hanya bisa tertawa melihat ketiga kakaknya basah kuyup.
            “Akan ku adukan kepada ibu!”
            “Sudahlah Jade, Topaz kan masih kecil. Maklumi saja dia.” Cegah Lace sambil mengayunkan tongkat cendana sihir miliknya. Merapalkan mantra agar Jade menjadi kering kembali. Jade hanya bisa menggerutu saat adiknya itu meledeknya kembali.
            “Nah sekarang, ayo kita berangkat!” Agate langsung menyambar tasnya dan berlari menuju pintu berukiran huruf C besar lengkap dengan ukiran family tree mereka saat kenop pintu dipindahkan dari kanan ke kiri.
            “Agate! Kita bareng!” Lace mencegah Agate yang hampir membuka kenop pintu penghubung antara dunia manusia dan dunia sihir itu. “Oiya, Jade…” kata Lace yang seperti melupakan sesuatu.
            Adik perempuannya itu memiringka mukanya, menatap bertanya. “Kau lupa melepas lensa kontak dunia manusiamu, lagi.”
            Jade bersemu merah, malu. Bagaimana tidak Agate selalu mengejeknya ‘Nona pikun’. Payah, pikirnya. Sambil berjalan, ia mengayunkan tongkatnya di depan matanya. Mengubah iris berwarna coklat itu menjadi warna fuchsia. Iris khas keluarga Cameo.
           
###

4.17.2012

POTTERMORE

akhirnya setelah lama menunggu, website pottermore.com buka 'tahun baru'. gue udh daftar dan ber username HowlSparks30773 (di add ya kalau punya pottermore) sangat bahagia TwT. mainnya pertama-tama rada nyebelin soalnya ga jelas dan gue ga ngerti, tp lama kelamaan gue bisa dan sekarang udah sampe chapter 8 book 1 :D. gue udh punya pet: black cat, wand: sycamore, unicorn core, eleven inchies, slighty springy (kata mr. olivander sih gituu). dan yahh gue se asrama sm ayang draco :3 so sweet gak sih??? :3 *plak*
udah ya! segini dulu, perjalanan murid first-year ini masih panjang~ *belajar buat ramuan lagi dan lagi sampe botak*