“Dia
itu mendekati sempurna!” Iya, aku tahu. Kamu sudah berpuluh-puluh kali berkata
seperti itu. Dengan mata yang
berbinar-binar, tangan yang selalu meremas udara, dan senyum itu. Senyum yang
sangat indah. Dan senyum itu tentu bukan buatku.
Kamu terlihat sangat senang bisa
mendapatkan gadis lain setelah belum bisa move
on dari gadismu terdahulu. Aku ingat waktu itu, waktu di mana kamu
tiba-tiba datang ke rumahku malam-malam saat hujan angin melanda. Waktu yang
juga bersamaan dengan kencanmu yang ke 15. Katamu kamu diputuskan oleh gadismu
yang bilang hubungan kalian tidak direstui oleh orangtuanya. Itulah salahsatu
alasanmu hujan-hujanan dari café tempat kencanmu ke rumahku. Dengan muka lesu
dan bibir bergetar kau sudah ada di depan pintuku. Dinginnya di luar sana makin
bisa kurasakan saat melihat tanganmu dilipat di depan dada. Aku pun menyuruhmu
menunggu dan mengambilkanmu handuk serta baju kakakku yang tak terpakai.
“Aku putus,” katamu dengan tangan
memutar-mutar gelas yang berisi teh hangat. Sorot matamu ke bawah dan redup.
Kau sangat patah hati dan frustasi. Ada rasa senang dan lega ketika mendengar
penuturanmu. Tapi tak tega aku melihatmu dengan keadaan hancur seperti ini.
Hanya tepukan beberapa kali di pundakmu dan berkata “Sabar,ya.” ke padamu. Kau
lalu menyunggikan senyumanmu yang lucu itu. Dan menepuk kepalaku sebagai
pengganti kata “Terima kasih.” Letupan-letupan menyenangkan nan menggelisahkan
itu datang lagi.
“Dia itu beda sama cewe-cewe yang
lain! Dia pengertian banget. Lembut, baik, pinter masak lagi. Kemarin aku
dibawain bekal loh sama dia! Enaaakkk banget!” katamu dengan menggebu-gebu.
Hingga lupa memakan burger yang sudah mendingin itu. Sebagai sahabat,
seharusnya aku turut bahagia. Namun maaf, hati tak bisa berbohong. Nyeri di ulu
hati ini terbuka dan terus melebar. Senyum palsu ini terus ku lontarkan. Pancaran
dari mata ini, kian lama kian meredup.
Hanya
kamu yang aku relakan untuk bisa menyakitiku seperti ini.
==oo==
Aku siap dengan tumpukan DVD dan
makanan ringan dan satu botol soda. Dari siang ini aku akan melakukan movies marathon seperti biasa yang
kulakukan saat akhir pekan. Biasanya berdua denganmu. Namun, akhir pekan ini
kamu ada kencan dengan gadismu yang pintar masak itu. Otakku selalu berkhayal
ketika aku memeluk lenganmu saat kita berdua sedang menonton film bersama.
Meledek adegan yang ada, memuji aktor atau aktris yang tampan dan cantik.
Kemudian berpura-pura cemburu satu sama lain. Namun, itu hanya sebatas angan.
Inilah resiko mengerikan bila bersahabat dengan lawan jenis. Kau akan jatuh ke
jurang bernamakan cinta.
“Drrtt…drrtt…” Handphoneku yang
sedang aku atur dalam vibrate mode bergetar bergeser di depan meja. Tanpa
mengangkatnya aku melihat layar yang nyala-redup-nyala-redup itu. Satu pesan
elektronik dari kamu.
‘Dmn?’
‘Rmh, movies marathon. Knp?’
‘Jam 5 sore siap2, pake baju rapi.
Aku mau ajak kamu jalan2’
‘Lah? Ga pacaran?’
‘Nanti aku ceritain’
Tanganku bergetar bersamaan dengan
mataku yang membulat. Aku tahu ini bukan ajakan kencan, tapi terasa demikian.
Kepalaku langsung berpikir hebat tentang apa yang harus aku kenakan, dia
memakai baju berwarna apa, harus memakai sepatu jenis apa, harus bawa apa saja.
Ah—gila! Sadarlah! Sahabat tercintamu sudah memiliki pacar. Mungkin hari ini
mereka tak jadi kencan atau…mereka berdua ingin memberitahumu bahwa mereka akan
bertunangan? Perasaan malas untuk pergi muncul. Tentu saja, aku cemburu.
==oo==
“Lah? Lusuh banget pakaiannya. Pake
celana panjangan dikit kek! Mallnya dingin loh! Brrrrrr.” Terserahlah. Aku tak
tahan lagi berpura-pura. Sedikit saja bolehkan aku terlihat tidak suka?
“Semua celana panjang aku dicuci.
Lagian kaosnya gak jelek-jelek amat. Lagian banyak juga kan yang bakal pake
celana sependek ini di mall?” kataku sengaja judes. Hanya berani melirikmu
sekitar 2 detik saja. Malas melihat matamu yang bahagia karena ingin
bertunangan. Aku pun mengunci pintu rumah dan berlari menuju pagar rumah dengan
sepatu kets abu-abuku yang memang belum sempat aku cuci. “Ayo jalan!”
Mall yang cukup jauh membuat kami
harus naik mobil. Hanya langit senja khas perkotaan saja yang membuatku bisa
beralasan untuk tak menatapnya. Duduk bersampingan dengannya dengan suasana
hati seperti ini saja membuatku tidak nyaman. Apalagi ditambah dengan lagu
“Untitled – Maliq & D’essentials” yang liriknya mewakili perasaanku selama
5 tahun ini. Damn.
5 tahun lalu. Saat MOS hari ke 3 di
SMP. Kita dihukum karena tidak membawa surat cinta untuk kakak-kakak OSIS.
Kedua kepanganku dibuka dan kamulah yang harus mengepangnya kembali. Kamu
berkata tidak bisa berkali-kali namun tetap saja kakak OSIS itu tidak menarik
hukumannya. Kau masih lebih pendek daripadaku, suaramu masih belum berubah..masih
cempreng, dan topi kerucut yang kebesaran itu membuatku terkikik geli.
Meremehkan laki-laki kecil sepertimu yang ku kira tidak akan bertambah tinggi
lagi. Setelah kejadian itu pun saat kita berpapasan, salahsatu di antara kita
pasti menghindar. Entah itu kamu atau aku. Lucu memang kita menjadi dekat saat
kelas 2. Hanya kamu murid yang waktu kelas 1 sekelas lagi denganku. Kebetulan
bangkumu juga kosong. Dengan gelagapan kamu yang sudah lebih tinggi sedikit
dariku mempersilahkanku duduk denganmu.
Kamu termasuk laki-laki berwajah
tampan di sekolah. Banyak yang menyukaimu, hingga saat valentine banyak coklat
yang diberikan kepadamu. Kamu pun memintaku untuk membantu menghabiskan
coklat-coklat ini, dimakan berdua atau dibagikan ke yang lain. Dan di situlah
aku tahu. Kamu membenci valentine. Coklat yang segala macam rupa itu akhirnya
habis. Entah, memakan coklat yang banyak membuatku menjadi ngantuk sehingga aku
ketiduran di dalam kelas. Dan saatku terbangun, aku melihatmu duduk bersender
sambil membaca komik di tiang kursi kayu tempatku tertidur. Aku terbelalak
hingga membuat kursi itu bergeser dan membuatmu hampir jatuh.
“Kamu sudah bangun ya?” katamu
sambil menatap ke arahku dengan tersenyum. Mataku tak sengaja melihat matamu
dengan intens. Yang ku sadari pada akhirnya bahwa letupan letupan kecil di
hatiku saat berada di dekatmu itu adalah cinta.
Kami pun menjadi semakin dekat, tak
ada lagi malu-malu akibat hukuman MOS. Barter curhatan dengan curhatan, ke
mana-mana selalu berdua. Sikap ramahmu yang membuatku yakin kita akan selalu
bersama berdua. Namun, ternyata harapan itu hancur ketika kau mengumumkan bahwa
kau berpacaran dengan anak kelas sebelah. Aku pun tersenyum bahagia untuk
kebahagiaanmu yang sebenarnya menyakitiku. Sampai saat ini.
“Kita sampai,” suaramu ditambah
dengan mobilmu yang berhenti bergetar. Membuyarkan lamunanku tentang masa lalu
kita. Tapi janggal, ini bukan seperti basement
di Mall. Ini pinggir jalan yang terdapat warung-warung pecel lele dan
sejenisnya berjejeran. Masa mereka mau mengumumkan mereka tunangan di sini?
“Kok gak ke mall?” tanyaku heran.
“Lagian pakaian kamu kayak gitu,
sih! Hehe canda.” Daripada mendengarkan hirauanmu, aku teringat oleh hal yang
lain. Pacarmu—atau boleh aku sebut calon tunanganmu. Di mana dia?
“Pacarmu mana?” tanyaku dengan
sorotan mata menjelajah lingkungan sekitar kita. Tak ada si cantik berambut
panjang yang anggun itu.
“Ayo udah ke dalam dulu!” katamu
seraya menarik lenganku reflek aku melihat kepalamu. Kamu sudah lebih tinggi
dari waktu SMP. Bahkan aku hanya sebatas pundakmu saja.
Kita berdua memesan makanan yang
sama. Nasi goreng, yang tentu nikmat disantap dengan es teh manis. Aku masih
penasaran mengapa malam ini aku hanya berdua denganmu. Padahal seharusnya kamu
berkencan dengan gadismu dan aku seperti biasa bermovie marathon sendirian. Ah! Aku mengerti….
“Putus ya?” ucapku to the point.
Sebenarnya aku takut salah, karena kamu terlalu senang ketika putus dengan
pacarmu.
“Yap!” Tak seperti malam yang hujan
dulu, kau terlalu senang.
“Kamu yang mutusin? Kok senang
banget?” tanyaku heran. Kamu tak seperti biasanya.
“Dia kok,” kamu menaikan pundakmu
tanda tak acuh, “gitu deh.” Kadang-kadang kamu memang harus dipancing dulu agar
memberitahu sesuatu dengan detail.
“Salah paham ya?” pancingku.
“Semacam itu. Ternyata dia cemburu
sama kita.”
Tolong…jangan membuat aku merasa
bersalah. Tak sedkit gadis-gadis yang kamu kencani memutuskanmu gara-gara aku.
Mungkin semua dari mereka, bahkan yang beralasan tak direstui orangtua itu.
“Kenapa kamu gak jauhin aja aku?”
ups! Aku lengah dalam mengendalian emosiku.
“Mana mungkin! Kamu itu lebih
berarti daripada dia! Kamu penting banget buat aku!”
….sebagai
sahabat, kan?
Tepat saat sedang klimaksnya, nasi
goreng pesanan kami pun datang. Harum dari bumbu nasi goreng yang tadi sedang
dimasak tadi berubah menjadi hambar. Aku tak napsu makan. Menggalaui orang
sedang berada tepat di depanku. Kamu, sahabatku.
“Aku mau pulang,” kataku mutlak. Kemudian
mengeluarkan beberapa lembar uang kertas untuk membayar pesananku.
“Lah? Nasi goreng kamu belum abis,
es tehnya juga.” Tatapan heranmu membuatku makin ingin meneriakimu, ingin jujur
padamu, ingin melakukan hal yang seharuskan bisa aku lakukan bila tak takut
merusak jalinan persahabatan kita.
“Yang penting aku bayar. Yuk,
pulang.” Dengan sedikit menggerutu akhirnya kamu menurut, walaupun mengambil 2
suapan terakhir karena rasa nagih di nasi goreng itu. Aku ingin pulang sebelum
setan di hati ini keluar.
==oo==
Alunan musik yang keluar dari earphone menemaniku untuk menunggu gadis
tukang telat sepertimu. Tentu aku sudah biasa meladeni kebiasan burukmu itu
selama 5 tahun ini. Entah apa yang kamu lakukan sehingga bisa telat melebihi
kebiasaanmu seperti ini. Mengapa juga aku selalu tahan dengan itu semua?
“Maaf! Lama banget ya nunggunya?”
akhirnya kamu datang juga. Terdengar ngos-ngosan seperti habis lari marathon.
Namun tak memudarkan kemanisan setiap inci wajahmu.
“Habis ngapain sih?”
“….”
“Kok ga dijawab?” Kadang-kadang aku
merasa tidak adil dengan persahabatan kita. Kamu terlalu banyak mendengar dan
aku yang terlalu banyak berbicara. Sekali-kali aku ingin dengar celotehanmu,
melihat berbagai macam ekspresimu saat bercerita. Tapi kamu malah lebih banyak
bersifat tenang, apa kamu bosan dengan cerita-ceritaku?
Angin berhembus kencang karena kita
sedang berjalan di jembatan penyebrangan. Berjalan berdampingan. Sesekali aku
melihat ke bawah untuk melihat kendaraan yang berlalu lalang. Entah mengapa itu
menyenangkan.
“Eh!” katamu tiba-tiba. Kita tetap
berjalan santai beriringan. “aku jadian loh!”
Bagaikan bumi, aku merasa ada
serangan gempa tektonik yang berpusat di jantungku. Seluruh tubuhku menegang.
Hingga kaki pun bergetar enggan untuk melangkah, siap untuk terhempas.
“Loh? Kenapa berhenti?” Kenapa kamu
bertanya? Biasanya kamu yang sangat peka dengan gerak-gerikku. Mengapa wajahmu
berseri? Mengapa wajah itu bukan ditujukan bukan karena aku?
Aku menggeleng. Menarik napas dan
menangkan diri. Mencoba bersikap dewasa, kami hanyalah sahabat dan tak mungkin
seperti itu. “Jadi kamu tadi lama gara-gara ada yang nembak kamu?” tanyaku
dengan ekspresi kesal yang dibuat-buat.
“Hehe…ya gitu deh.”
“Kenapa gak pulang sama dia?”
“Eh…eng…dia ada les.”
“Oh. Selamat ya!” kataku sambil
berlari menyusulnya dan mengacak-acak rambutnya. Tersenyum palsu untuk
kebahagiaannya ada kewajiban sahabat. Aku bahagia untuknya, aku menyakiti aku.
“Aku
mencintaimu, sahabatku. Maaf aku tak akan pernah mengatakannya. Silahkan kamu
cap aku lelaki pengecut tapi begitulah adanya. Aku takut untuk merusak
persahabatan kita, aku tak tega menyakitimu. Semoga kamu berbahagia dengannya.”
“Jadi
itu responmu? Tersenyum bahagia tanpa secuil kecemburuan dari wajah maskulinmu?
Ternyata cintaku memang bertepuk sebelah tangan dari dulu. Tak apa bagiku. Pun
kau tetap menjadi sahabatku. Ngomong-ngomong, aku berbohong. Aku tak jadian
dengan siapa-siapa. Karena aku selalu mencintaimu, sahabatku.”