Laman

5.02.2013

Senyum untuk Sahabat



                “Dia itu mendekati sempurna!” Iya, aku tahu. Kamu sudah berpuluh-puluh kali berkata seperti itu. Dengan mata yang berbinar-binar, tangan yang selalu meremas udara, dan senyum itu. Senyum yang sangat indah. Dan senyum itu tentu bukan buatku.
            Kamu terlihat sangat senang bisa mendapatkan gadis lain setelah belum bisa move on dari gadismu terdahulu. Aku ingat waktu itu, waktu di mana kamu tiba-tiba datang ke rumahku malam-malam saat hujan angin melanda. Waktu yang juga bersamaan dengan kencanmu yang ke 15. Katamu kamu diputuskan oleh gadismu yang bilang hubungan kalian tidak direstui oleh orangtuanya. Itulah salahsatu alasanmu hujan-hujanan dari café tempat kencanmu ke rumahku. Dengan muka lesu dan bibir bergetar kau sudah ada di depan pintuku. Dinginnya di luar sana makin bisa kurasakan saat melihat tanganmu dilipat di depan dada. Aku pun menyuruhmu menunggu dan mengambilkanmu handuk serta baju kakakku yang tak terpakai.
            “Aku putus,” katamu dengan tangan memutar-mutar gelas yang berisi teh hangat. Sorot matamu ke bawah dan redup. Kau sangat patah hati dan frustasi. Ada rasa senang dan lega ketika mendengar penuturanmu. Tapi tak tega aku melihatmu dengan keadaan hancur seperti ini. Hanya tepukan beberapa kali di pundakmu dan berkata “Sabar,ya.” ke padamu. Kau lalu menyunggikan senyumanmu yang lucu itu. Dan menepuk kepalaku sebagai pengganti kata “Terima kasih.” Letupan-letupan menyenangkan nan menggelisahkan itu datang lagi.
            “Dia itu beda sama cewe-cewe yang lain! Dia pengertian banget. Lembut, baik, pinter masak lagi. Kemarin aku dibawain bekal loh sama dia! Enaaakkk banget!” katamu dengan menggebu-gebu. Hingga lupa memakan burger yang sudah mendingin itu. Sebagai sahabat, seharusnya aku turut bahagia. Namun maaf, hati tak bisa berbohong. Nyeri di ulu hati ini terbuka dan terus melebar. Senyum palsu ini terus ku lontarkan. Pancaran dari mata ini, kian lama kian meredup.
            Hanya kamu yang aku relakan untuk bisa menyakitiku seperti ini.
==oo==
            Aku siap dengan tumpukan DVD dan makanan ringan dan satu botol soda. Dari siang ini aku akan melakukan movies marathon seperti biasa yang kulakukan saat akhir pekan. Biasanya berdua denganmu. Namun, akhir pekan ini kamu ada kencan dengan gadismu yang pintar masak itu. Otakku selalu berkhayal ketika aku memeluk lenganmu saat kita berdua sedang menonton film bersama. Meledek adegan yang ada, memuji aktor atau aktris yang tampan dan cantik. Kemudian berpura-pura cemburu satu sama lain. Namun, itu hanya sebatas angan. Inilah resiko mengerikan bila bersahabat dengan lawan jenis. Kau akan jatuh ke jurang bernamakan cinta.
            “Drrtt…drrtt…” Handphoneku yang sedang aku atur dalam vibrate mode bergetar bergeser di depan meja. Tanpa mengangkatnya aku melihat layar yang nyala-redup-nyala-redup itu. Satu pesan elektronik dari kamu.
            ‘Dmn?’
            ‘Rmh, movies marathon. Knp?’
            ‘Jam 5 sore siap2, pake baju rapi. Aku mau ajak kamu jalan2’
            ‘Lah? Ga pacaran?’
            ‘Nanti aku ceritain’
            Tanganku bergetar bersamaan dengan mataku yang membulat. Aku tahu ini bukan ajakan kencan, tapi terasa demikian. Kepalaku langsung berpikir hebat tentang apa yang harus aku kenakan, dia memakai baju berwarna apa, harus memakai sepatu jenis apa, harus bawa apa saja. Ah—gila! Sadarlah! Sahabat tercintamu sudah memiliki pacar. Mungkin hari ini mereka tak jadi kencan atau…mereka berdua ingin memberitahumu bahwa mereka akan bertunangan? Perasaan malas untuk pergi muncul. Tentu saja, aku cemburu.
==oo==
            “Lah? Lusuh banget pakaiannya. Pake celana panjangan dikit kek! Mallnya dingin loh! Brrrrrr.” Terserahlah. Aku tak tahan lagi berpura-pura. Sedikit saja bolehkan aku terlihat tidak suka?
            “Semua celana panjang aku dicuci. Lagian kaosnya gak jelek-jelek amat. Lagian banyak juga kan yang bakal pake celana sependek ini di mall?” kataku sengaja judes. Hanya berani melirikmu sekitar 2 detik saja. Malas melihat matamu yang bahagia karena ingin bertunangan. Aku pun mengunci pintu rumah dan berlari menuju pagar rumah dengan sepatu kets abu-abuku yang memang belum sempat aku cuci. “Ayo jalan!”
            Mall yang cukup jauh membuat kami harus naik mobil. Hanya langit senja khas perkotaan saja yang membuatku bisa beralasan untuk tak menatapnya. Duduk bersampingan dengannya dengan suasana hati seperti ini saja membuatku tidak nyaman. Apalagi ditambah dengan lagu “Untitled – Maliq & D’essentials” yang liriknya mewakili perasaanku selama 5 tahun ini. Damn.
            5 tahun lalu. Saat MOS hari ke 3 di SMP. Kita dihukum karena tidak membawa surat cinta untuk kakak-kakak OSIS. Kedua kepanganku dibuka dan kamulah yang harus mengepangnya kembali. Kamu berkata tidak bisa berkali-kali namun tetap saja kakak OSIS itu tidak menarik hukumannya. Kau masih lebih pendek daripadaku, suaramu masih belum berubah..masih cempreng, dan topi kerucut yang kebesaran itu membuatku terkikik geli. Meremehkan laki-laki kecil sepertimu yang ku kira tidak akan bertambah tinggi lagi. Setelah kejadian itu pun saat kita berpapasan, salahsatu di antara kita pasti menghindar. Entah itu kamu atau aku. Lucu memang kita menjadi dekat saat kelas 2. Hanya kamu murid yang waktu kelas 1 sekelas lagi denganku. Kebetulan bangkumu juga kosong. Dengan gelagapan kamu yang sudah lebih tinggi sedikit dariku mempersilahkanku duduk denganmu.
            Kamu termasuk laki-laki berwajah tampan di sekolah. Banyak yang menyukaimu, hingga saat valentine banyak coklat yang diberikan kepadamu. Kamu pun memintaku untuk membantu menghabiskan coklat-coklat ini, dimakan berdua atau dibagikan ke yang lain. Dan di situlah aku tahu. Kamu membenci valentine. Coklat yang segala macam rupa itu akhirnya habis. Entah, memakan coklat yang banyak membuatku menjadi ngantuk sehingga aku ketiduran di dalam kelas. Dan saatku terbangun, aku melihatmu duduk bersender sambil membaca komik di tiang kursi kayu tempatku tertidur. Aku terbelalak hingga membuat kursi itu bergeser dan membuatmu hampir jatuh.
            “Kamu sudah bangun ya?” katamu sambil menatap ke arahku dengan tersenyum. Mataku tak sengaja melihat matamu dengan intens. Yang ku sadari pada akhirnya bahwa letupan letupan kecil di hatiku saat berada di dekatmu itu adalah cinta.
            Kami pun menjadi semakin dekat, tak ada lagi malu-malu akibat hukuman MOS. Barter curhatan dengan curhatan, ke mana-mana selalu berdua. Sikap ramahmu yang membuatku yakin kita akan selalu bersama berdua. Namun, ternyata harapan itu hancur ketika kau mengumumkan bahwa kau berpacaran dengan anak kelas sebelah. Aku pun tersenyum bahagia untuk kebahagiaanmu yang sebenarnya menyakitiku. Sampai saat ini.
            “Kita sampai,” suaramu ditambah dengan mobilmu yang berhenti bergetar. Membuyarkan lamunanku tentang masa lalu kita. Tapi janggal, ini bukan seperti basement di Mall. Ini pinggir jalan yang terdapat warung-warung pecel lele dan sejenisnya berjejeran. Masa mereka mau mengumumkan mereka tunangan di sini?
            “Kok gak ke mall?” tanyaku heran.
            “Lagian pakaian kamu kayak gitu, sih! Hehe canda.” Daripada mendengarkan hirauanmu, aku teringat oleh hal yang lain. Pacarmu—atau boleh aku sebut calon tunanganmu. Di mana dia?
            “Pacarmu mana?” tanyaku dengan sorotan mata menjelajah lingkungan sekitar kita. Tak ada si cantik berambut panjang yang anggun itu.
            “Ayo udah ke dalam dulu!” katamu seraya menarik lenganku reflek aku melihat kepalamu. Kamu sudah lebih tinggi dari waktu SMP. Bahkan aku hanya sebatas pundakmu saja.
            Kita berdua memesan makanan yang sama. Nasi goreng, yang tentu nikmat disantap dengan es teh manis. Aku masih penasaran mengapa malam ini aku hanya berdua denganmu. Padahal seharusnya kamu berkencan dengan gadismu dan aku seperti biasa bermovie marathon sendirian. Ah! Aku mengerti….
            “Putus ya?” ucapku to the point. Sebenarnya aku takut salah, karena kamu terlalu senang ketika putus dengan pacarmu.
            “Yap!” Tak seperti malam yang hujan dulu, kau terlalu senang.
            “Kamu yang mutusin? Kok senang banget?” tanyaku heran. Kamu tak seperti biasanya.
            “Dia kok,” kamu menaikan pundakmu tanda tak acuh, “gitu deh.” Kadang-kadang kamu memang harus dipancing dulu agar memberitahu sesuatu dengan detail.
            “Salah paham ya?” pancingku.
            “Semacam itu. Ternyata dia cemburu sama kita.”
            Tolong…jangan membuat aku merasa bersalah. Tak sedkit gadis-gadis yang kamu kencani memutuskanmu gara-gara aku. Mungkin semua dari mereka, bahkan yang beralasan tak direstui orangtua itu.
            “Kenapa kamu gak jauhin aja aku?” ups! Aku lengah dalam mengendalian emosiku.
            “Mana mungkin! Kamu itu lebih berarti daripada dia! Kamu penting banget buat aku!”
            ….sebagai sahabat, kan?
            Tepat saat sedang klimaksnya, nasi goreng pesanan kami pun datang. Harum dari bumbu nasi goreng yang tadi sedang dimasak tadi berubah menjadi hambar. Aku tak napsu makan. Menggalaui orang sedang berada tepat di depanku. Kamu, sahabatku.
            “Aku mau pulang,” kataku mutlak. Kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang kertas untuk membayar pesananku.
            “Lah? Nasi goreng kamu belum abis, es tehnya juga.” Tatapan heranmu membuatku makin ingin meneriakimu, ingin jujur padamu, ingin melakukan hal yang seharuskan bisa aku lakukan bila tak takut merusak jalinan persahabatan kita.
            “Yang penting aku bayar. Yuk, pulang.” Dengan sedikit menggerutu akhirnya kamu menurut, walaupun mengambil 2 suapan terakhir karena rasa nagih di nasi goreng itu. Aku ingin pulang sebelum setan di hati ini keluar.
==oo==
            Alunan musik yang keluar dari earphone menemaniku untuk menunggu gadis tukang telat sepertimu. Tentu aku sudah biasa meladeni kebiasan burukmu itu selama 5 tahun ini. Entah apa yang kamu lakukan sehingga bisa telat melebihi kebiasaanmu seperti ini. Mengapa juga aku selalu tahan dengan itu semua?
            “Maaf! Lama banget ya nunggunya?” akhirnya kamu datang juga. Terdengar ngos-ngosan seperti habis lari marathon. Namun tak memudarkan kemanisan setiap inci wajahmu.
            “Habis ngapain sih?”
            “….”
            “Kok ga dijawab?” Kadang-kadang aku merasa tidak adil dengan persahabatan kita. Kamu terlalu banyak mendengar dan aku yang terlalu banyak berbicara. Sekali-kali aku ingin dengar celotehanmu, melihat berbagai macam ekspresimu saat bercerita. Tapi kamu malah lebih banyak bersifat tenang, apa kamu bosan dengan cerita-ceritaku?
            Angin berhembus kencang karena kita sedang berjalan di jembatan penyebrangan. Berjalan berdampingan. Sesekali aku melihat ke bawah untuk melihat kendaraan yang berlalu lalang. Entah mengapa itu menyenangkan.
            “Eh!” katamu tiba-tiba. Kita tetap berjalan santai beriringan. “aku jadian loh!”
            Bagaikan bumi, aku merasa ada serangan gempa tektonik yang berpusat di jantungku. Seluruh tubuhku menegang. Hingga kaki pun bergetar enggan untuk melangkah, siap untuk terhempas.
            “Loh? Kenapa berhenti?” Kenapa kamu bertanya? Biasanya kamu yang sangat peka dengan gerak-gerikku. Mengapa wajahmu berseri? Mengapa wajah itu bukan ditujukan bukan karena aku?
            Aku menggeleng. Menarik napas dan menangkan diri. Mencoba bersikap dewasa, kami hanyalah sahabat dan tak mungkin seperti itu. “Jadi kamu tadi lama gara-gara ada yang nembak kamu?” tanyaku dengan ekspresi kesal yang dibuat-buat.
            “Hehe…ya gitu deh.”
            “Kenapa gak pulang sama dia?”
            “Eh…eng…dia ada les.”
            “Oh. Selamat ya!” kataku sambil berlari menyusulnya dan mengacak-acak rambutnya. Tersenyum palsu untuk kebahagiaannya ada kewajiban sahabat. Aku bahagia untuknya, aku menyakiti aku.
            “Aku mencintaimu, sahabatku. Maaf aku tak akan pernah mengatakannya. Silahkan kamu cap aku lelaki pengecut tapi begitulah adanya. Aku takut untuk merusak persahabatan kita, aku tak tega menyakitimu. Semoga kamu berbahagia dengannya.”
            “Jadi itu responmu? Tersenyum bahagia tanpa secuil kecemburuan dari wajah maskulinmu? Ternyata cintaku memang bertepuk sebelah tangan dari dulu. Tak apa bagiku. Pun kau tetap menjadi sahabatku. Ngomong-ngomong, aku berbohong. Aku tak jadian dengan siapa-siapa. Karena aku selalu mencintaimu, sahabatku.”



No comments:

Post a Comment